Skip to main content

I Was Here : Orang-Orang yang Ditinggal Bunuh Diri

Aku cukup bersyukur tidak pernah mengalami hal semacam ini, seorang teman dekat yang dianggap seperti saudara sendiri memutuskan untuk bunuh diri. Jelas ini adalah pukulan yang sangat keras karena rasa bersalah akan membenam begitu kuat. Muncul pertanyaan; "Benarkan kau sudah mengenal dia dengan baik, benarkah kau sahabatnya, mengapa dia sampai bunuh diri?" Hal-hal macam2 itulah yang ingin diangkat oleh Gayle Forman dalam novelnya ini, I Was Here.

Bercerita tentang Cody yang ditinggal mati bunuh diri oleh sahabat karibnya bernama Mag. Serta tentang sebuah kelompok online yang mendukung orang-orang yang ingin melakukan bunuh diri. Kita tidak pernah tahu apakah perkumpulan seperti itu ada di Negri kita, namun di era yang serba canggih seperti saat ini, kemungkinan itu sangatlah besar dan itu sangat berbahaya bagi remaja-remaja labil zaman sekarang yang rapuh dan mudah terjerumus ke perkumpulan seperti itu.

Buku ini lebih banyak bercerita tentang luka orang-orang yang ditinggalkan. Mungkin si yang bunuh diri tidak pernah terpikir bahwa luka orang-orang disekitarnya akan sangat menyakitkan daripada beban yang saat itu dimilikinya. Berada di titik terendah dari hidup adalah kondisi ketika merasa sendiri dan terabaikan oleh lingkungan, depresi, tidak ada orang yang bisa diajak bicara lalu muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Keinginan bunuh diri itu bisa merasuki siapa saja bahkan untuk orang-orang yang selalu berpikir rasional sekali pun, namun terkadang keinginan itu tidak dibarengi dengan kesungguh-sungguhan yang pada akhirnya hanya menjadi angin lalu di saat suram.

Forman sangat berhasil menghidupkan karakter yang sejak awal dimatikan tapi terasa hidup lewat cerita-cerita dari karakter lain. Sehingga kita mulai menganggap ini tidak sekadar kejadian bunuh diri biasa, melainkan sebuah pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja. Tapi ketika kita mulai memasuki bab-bab penuh depresi, kita dibuat terperangah bahwa kenyataan tidak bisa dipandang lewat satu sudut pandang saja.

I Was Here seperti sebuah peringatan kepada kita untuk orang-orang yang kita anggap sahabat dekat saat ini. Benarkah kita mengenal mereka dengan baik. Apakah kita selalu ada disaat dia berada dalam kesusahan atau juga sebaliknya. Berbicara adalah salah satu kunci pengalihan diri dari hal-hal suram yang bisa menjerumuskan kita ke dalam keinginan untuk bunuh diri. Itulah fungsi dari sahabat, lahan untuk berbagi suka atau pun duka. Lahan yang harus kita pelihara dengan baik agar kelak tidak ada penyesalan yang muncul dikemudian hari seperti yang dialami oleh Cody.

Ditinggal mati begitu saja apalagi dengan cara bunuh diri,  jelas menimbulkan perasaan bersalah, kesal pada kenyataan. Dalam novel ini diungkap bagaimana caranya mengatasi itu semua, bagaimana caranya memaafkan dan merelakan. Di bab 32 hal ini dijelaskan lewat sebuah khotbah panjang yang disampaikan oleh Jerry di Gereja. Dan menurutku ini adalah bagian terbaik yang ada di novel ini. Memberikan ilham dan membuka mata kita tentang pentingnya memaafkan banyak hal yang terjadi disekitar kita.

Aku pertama kali membaca novel Gayle Forman adalah If I stay lalu dilanjutkan dengan Where She Went. Jelas 2 novel itu sangat berbeda dengan I Was Here, namun masih menggunakan cara penyampaian yang hampir sama, asik, ringan, dan tidak membosankan. Forman selalu mengangkat hal-hal galau yang ada di sekitar kita, hal-hal biasa tapi dengan cita rasa luar biasa. Dan novel ini cukup untuk membuka pikiran kita tentang makna dari hidup kita di dunia ini.

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya

Siapa itu Anton Chekhov?  Mungkin itu pertanyaan awal yang terlintas di benak kalian semua. Sebagai sebuah pembuka tulisan ini, aku akan menjelaskan sedikit tentang lelaki yang ternyata menutup usianya  di usia 44 tahun.Anton Chekhov adalah seorang sastrawan asal Rusia yang sangat banyak menulis cerpen. Di dalam buknya ini dia sampai disebut sebagai Raja Cerita Pendek. Kebanyakan cerpen yang ditulisnya memang sangat pendek, bahkan ada yang hanya terdiri dari 6 paragraf saja seperti cerpen yang berjudul Lobak. Namun ada juga yang terlampau panjang seperti Wanita Dengan Anjing.Dia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke majalah humor pada saat dia tinggal di Moskow untuk meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Moskow.  Tujuan awalnya untuk membantu keuangan keluarganya. Namun setelah lulus dan mulai menekuni karir sebagai dokter, dia malah semakin tertarik pada dunia sastra.Dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Pengakuan ini, Anton Chekhov banyak membahas tentang kehidupan so…

The Seven Good Years : Cara Edgar Keret Menertawakan Hidup

Sebelum membaca buku ini, aku sudah cukup sering membaca cerpen-cerpen Edgar Keret di blog-blog yang dengan baik hati sudah menterjemahkan cerpen-cerpen tadi ke dalam bahasa Indonesia. Cerpen Keret terkenal sangat pendek, lucu, dan tentunya mempunyai olok-olok jenaka tentang hal-hal yang berbau politik serta hal-hal lainnya mengenai perang. Walau banyak juga ia menulis tentang hal lainnya. Keret adalah seorang Yahudi yang  tak mau pindah dari asalnya, Israel. Ia hidup di daerah konflik, namun pandangannya tentang itu tergolong unik, ia sangat kritis terhadap pemerintah, terhadap perang. Karena baginya perdamaian melampaui batas agama, bangsa, dan negara.Di dalam buku ini Keret bercerita tentang pegalaman hidupnya selama 7 tahun, hal ini dimulai ketika anaknya Lev lahir. Ia membuka cerita-cerita dengan sangat lucu, seperti memperolok dirinya sendiri, bahkan ia bisa membuat hal-hal yang menyedihkan atau semacam bencana mengerikan menjadi sesuatu yang santai serta lucu. Seperti saat istr…

Bersama Gaspar, Sabda Armandio Mencoba Jadi Penjahat

Membicarakan Sabda Armandio hampir sama dengan membicarakan hal aneh yang jarang kalian temui di kehidupan nyata, namun sangat asik untuk dibahas. Pada mulanya aku membaca novel pertama Sabda yang berjudul; Kamu (Cerita yang tidak perlu dipercaya)—novel itu sungguh punya cover yang bagiku sangat tidak menarik dan punya judul yang terkesan tidak penting (ini menurut seleraku lo ya!). Seolah ada kekuatan magis yang  dimiliki novel itu, tiba-tiba saja keinginan untuk membaca novel itu timbul begitu saja. Ya semacam orang yang tercebur ke laut, mencari pegangan agar tidak tenggelam. Dan novel Kamu tadi seolah berbinar bagai penyelamat—hahaha ini terlalu berlebihan.
Berawal dari kesan novel pertamanya itulah aku jadi sangat bersemangat untuk membaca novelnya yang lain. Ketika sedang membaca sebuah tulisan di blognya Bernard Batubara tentang tiga buku yang sangat ditunggu oleh Bara tahun ini, semangat menggebu membakar sukma itu kembali berkobar, sebab salah satu dari tiga novel yang dibicar…