Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2016

Pespektif

Putus cinta bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal baru untuk merasakan perihnya sakit hati, dan trauma untuk memulai cinta lagi. Ini adalah hari kedua aku ditinggal pergi, kekasih yang aku cintai selama lima tahun itu ternyata berselingkuh dan memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Aku tidak menyalahkannya, karena pilihannya patut aku hargai, sebab aku tidak bisa memberikan kepastian padanya, padahal para perempuan butuh kepastian. Aku tidak menangisinya, sebab aku laki-laki. Merasakan sakit hati, hal itu sudah pasti dan tak bisa aku pungkiri. Saat semua ini terjadi orang-orang disekitar berubah jadi perduli, banyak yang menyemangati, dan bilang Yunita akan menyesal suatu saat nanti. Lalu satu per satu dari mereka mulai mencarikanku kekasih pengganti. Sebenarnya aku lelah dengan itu semua, aku butuh sendiri, tapi di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa dihindari, salah satunya adalah orang-orang yang pernah berlaku baik pada kita, menolak mereka sama saja dengan…

Paris, Kota Cinta Pembawa Masalah - Just One Day

Kota cinta, demikianlah banyak orang menyebut Paris. Banyak kisah cinta ditulis berlatar belakang kota ini, namun hampir tidak ada yang menulisnya seperti Just One Day. Tidak melulu soal cinta namun kental dengan cinta, mungkin demikianlah aku menyebut novel ini, jika dibandingkan dengan novel Gayle Forman yang lain semacam If I Stay, Where She Went, dan I Was Here, maka novelnya yang kali ini jauh lebih kental dengan 'sastra'. Mengapa demikian mungkin karena Forman sangat banyak membahas tentang karya-karya Shakespeare dengan terperinci dan tidak hanya berupa tempelan semata. Walau pun demikian, bukan berarti novel ini terkesan berat untuk remaja, malah jika dikatagorikan jelas sekali novel ini adalah novel remaja tapi dengan sentuhan sastra yang cemerlang.'Seorang remaja yang mencoba mengenali dirinya sendiri lewat tragedi yang dialaminya di Paris'. Menurutku banyak para remaja mengalami hal semacam ini, memasuki masa transisi, peralihan dari remaja menjadi lebih dew…

Milos, Z, & Kawanan Beru

1. Rasi bintang orion terlihat jelas di langit malam itu, demikian juga dengan suara deru gelombang yang menyeret perahu ke tepi pantai gelap. Milos berbaring di dalam perahu kayu tadi, menumpu kepalanya dengan kedua tangan kurus terlindung oleh lengan baju panjang yang dikenakannya. Itu adalah baju kesukaannya, Kos lengan panjang berwarna merah hati dengan gambar kucing oren loreng macam harimau. Saat ujung perahu menyentuh pantai, Milos bangkit. Sepoy angin menjamah dirinya bagai ucapan selamat datang. Sekitar remang-remang, rembulan purnama menggantung di puncak langit, cahayanya yang menimpa air laut, tenggelam mencipta semburat berkilauan mirip permata. Ia turun dari perahu, meloncat ke atas pasir putih yang menyambut kaki telanjang tanpa alas kaki, kemudian dengan sedikit keraguan, ditariknya perahu tadi hingga separuh lambung perahu terangkat ke atas pasir. Ia sendiri tak percaya dengan kemampuannya menarik perahu, sebab perahu itu terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus dan baru …