Skip to main content

Jawaban Tentang Cerpen

Tadi malam sebelum aku lelah terjaga, di benak, aku diserang beberapa tanya yang sempat singgah dalam minggu-minggu ini. Pertanyaan dari beberapa orang tentang dua cerpen terakhir yang aku tulis. MARIAMARIAM dan TELEVISI. Mereka tidak puas dengan kedua cerpen itu dan meminta aku menuntaskannya sebab kata mereka ceritanya belum selesai, semua butuh penjelasan dan juga jawaban.

Tulisan ini jelas bertujuan untuk memberikan pemahaman mengapa dua cerpen tadi berakhir demikian, mengapa masih menyimpan misteri yang membuat pembaca penasaran kelanjutannya. Aku terdengar mengubar janji ditulisan ini, dan kuharap kalian jangan terlalu berharap akan hal itu hehehe.

MARIAMARIAM dan TELEVISI merupakan dua cerpen berbeda yang punya cara bercerita yang hampir sama, atau lebih tepatnya punya pola penulisan yang sama. Di kedua cerpen itu, aku mencoba mengangkat kisah-kisah besar lewat sudut pandang tokoh pembantu, bukan tokoh utama yang sebenarnya pemilik dari cerita itu sendiri. Aku ingin memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh nomor dua adalah tokoh penting yang butuh perhatian, tokoh yang pada akhirnya punya banyak pertanyaan atas tokoh utama, dan saat kalian membaca cerita tadi lewat sudut pandang tokoh pembantu, maka kalian juga menemukan banyak pertanyaan yang sama dirasakan oleh tokoh pembantu tersebut.

Seperti dalam MARIAMARIAM, jika ditanya siapa tokoh utamanya, jelas tokoh utamanya adalah Mariamariam sendiri, bukan si "aku". Sebab Mariamariam lah si empu cerita yang sebenarnya. Si "aku" hanya tokoh pembantu yang mendengarkan cerita tokoh utama, lalu dihantui oleh jawaban atas segudang pertanyaan tentang dunia di luar yang tidak diketahuinya, oleh sebab itu pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencari jawaban-jawaban itu. Beberapa pertanyaan tentang kebenaran kisah Mariamariam memang terjawab tapi tetap saja semua tidak tuntas karena kebenaran sejatinya hanya dimiliki oleh Mariamariam itu sendiri.

Hal ini berbeda dengan tokoh "aku" yang ada di dalam cerpen TELEVISI, ia diserang dengan banyak pertanyaan dan keanehan namun menganggapnya hal sepele pada awalnya, lalu tensi cerita semakin naik dan ia butuh jawaban. Saat ia ingin bertanya, semuanya sudah terlambat. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah sang Istri, sedangkan si "aku" hanyalah tokoh pembantu yang tidak paham apa konflik yang sedang dialaminya.

Menjadikan tokoh pembantu sebagai tokoh utama memang bukan hal yang sering kalian temui, oleh sebab itu kesannya jadi rancu dan aneh. Namun inilah caraku bercerita, sesekali aku ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang dianggap nomor dua selama ini, ternyata punya daya pikat yang cukup bagus, mereka adalah orang-orang penting pondasi sebuah cerita yang menjadikan cerita hidup dan sangat manusiawi. Seperti hidup kita di dunia ini, kita adalah pemeran pembantu untuk dunia dan pemeran utama untuk hidup kita sendiri. Tidakkah ada banyak misteri yang terus kita tanyakan dan hingga hari ini belum menemu jawabannya?

Setelah sampai kebagian ini, aku malah terhenti dan berpikir. "Ah, tetap saja beberapa orang tidak akan mau memahami apa yang aku sampaikan, beberapa dari mereka pastilah masih menuntut ketutantasan cerita!" Tak apalah tidak semua tanya harus dapat jawaban yang tepat, sebab jawaban yang tepat hanya akan membuat seseorang berhenti untuk mencari kebenaran hehehe

Terima kasih sudah menyimak semoga tidak bikin pusing apalagi sampai muntah hehehe terus menulis, terus membaca!

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya

Siapa itu Anton Chekhov?  Mungkin itu pertanyaan awal yang terlintas di benak kalian semua. Sebagai sebuah pembuka tulisan ini, aku akan menjelaskan sedikit tentang lelaki yang ternyata menutup usianya  di usia 44 tahun.Anton Chekhov adalah seorang sastrawan asal Rusia yang sangat banyak menulis cerpen. Di dalam buknya ini dia sampai disebut sebagai Raja Cerita Pendek. Kebanyakan cerpen yang ditulisnya memang sangat pendek, bahkan ada yang hanya terdiri dari 6 paragraf saja seperti cerpen yang berjudul Lobak. Namun ada juga yang terlampau panjang seperti Wanita Dengan Anjing.Dia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke majalah humor pada saat dia tinggal di Moskow untuk meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Moskow.  Tujuan awalnya untuk membantu keuangan keluarganya. Namun setelah lulus dan mulai menekuni karir sebagai dokter, dia malah semakin tertarik pada dunia sastra.Dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Pengakuan ini, Anton Chekhov banyak membahas tentang kehidupan so…

The Seven Good Years : Cara Edgar Keret Menertawakan Hidup

Sebelum membaca buku ini, aku sudah cukup sering membaca cerpen-cerpen Edgar Keret di blog-blog yang dengan baik hati sudah menterjemahkan cerpen-cerpen tadi ke dalam bahasa Indonesia. Cerpen Keret terkenal sangat pendek, lucu, dan tentunya mempunyai olok-olok jenaka tentang hal-hal yang berbau politik serta hal-hal lainnya mengenai perang. Walau banyak juga ia menulis tentang hal lainnya. Keret adalah seorang Yahudi yang  tak mau pindah dari asalnya, Israel. Ia hidup di daerah konflik, namun pandangannya tentang itu tergolong unik, ia sangat kritis terhadap pemerintah, terhadap perang. Karena baginya perdamaian melampaui batas agama, bangsa, dan negara.Di dalam buku ini Keret bercerita tentang pegalaman hidupnya selama 7 tahun, hal ini dimulai ketika anaknya Lev lahir. Ia membuka cerita-cerita dengan sangat lucu, seperti memperolok dirinya sendiri, bahkan ia bisa membuat hal-hal yang menyedihkan atau semacam bencana mengerikan menjadi sesuatu yang santai serta lucu. Seperti saat istr…

Bersama Gaspar, Sabda Armandio Mencoba Jadi Penjahat

Membicarakan Sabda Armandio hampir sama dengan membicarakan hal aneh yang jarang kalian temui di kehidupan nyata, namun sangat asik untuk dibahas. Pada mulanya aku membaca novel pertama Sabda yang berjudul; Kamu (Cerita yang tidak perlu dipercaya)—novel itu sungguh punya cover yang bagiku sangat tidak menarik dan punya judul yang terkesan tidak penting (ini menurut seleraku lo ya!). Seolah ada kekuatan magis yang  dimiliki novel itu, tiba-tiba saja keinginan untuk membaca novel itu timbul begitu saja. Ya semacam orang yang tercebur ke laut, mencari pegangan agar tidak tenggelam. Dan novel Kamu tadi seolah berbinar bagai penyelamat—hahaha ini terlalu berlebihan.
Berawal dari kesan novel pertamanya itulah aku jadi sangat bersemangat untuk membaca novelnya yang lain. Ketika sedang membaca sebuah tulisan di blognya Bernard Batubara tentang tiga buku yang sangat ditunggu oleh Bara tahun ini, semangat menggebu membakar sukma itu kembali berkobar, sebab salah satu dari tiga novel yang dibicar…