Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2017

Cakap Tentang Kerja, Gaji, Cuti, Sambil Minum Kopi

Sudah lama saya tidak jumpa dengan teman saya ini, kira-kira sudah hampir tiga tahun. Saya mengundangnya ke rumah untuk minum kopi sembari mengingat hal-hal yang sudah lalu. Dalam percakapan kami, ia bertanya tentang pekerjaan saya;
Dia : Kerja apa kamu sekarang Lek (panggilan akrab dia pada saya)? Saya : Masih sama Cok (panggilan akrab saya pada dia), kerja di Puskesmas. Dia : (Ketawa) tahan aja ya kau kerja di sana, gajinya besar ya? Saya : (Ikut tertawa) lumayan, walau gajinya sering telat di bayar, kadang dari januari, gajinya baru keluar bulan april. Dia : Sadis ya. Seharusnya di pedalaman seperti ini gaji harusnya lancar jaya. Saya : Seharusnya memang begitu, tapi apalah daya Cok, bukan Pegawai Negri, hanya Tenaga Kerja Honorer (baca : TKK), jadi ya gitu. Dia : Lah, terus kalian para TKK gak perotes apa? Saya : (Ketawa sinis) perotes juga gak ada gunanya Cok, orang katanya dananya memang belum ada. Dia : Terus kalian makan gimana? Saya : Ya pakai nasi, pakai lauk, pakai tangan lah Cok (ke…

Orang Paling Berdosa

Waktu kecil aku diasuh oleh bik Yani, perempuan asal jawa yang merantau ke Kalimantan. Kata ibu, bik Yani bekerja di rumah sejak Bang Arif berusia 3 tahun. Karena ibu dan bapak jarang di rumah sibuk bekerja, sedangkan bang Arif kuliah di Bandung, maka hampir semua waktuku dihabiskan bersama bik Yani. Bik Yani mengasuhku dengan kasih sayang, memanjakanku seperti anaknya sendiri. Kata ibu dari bayi hingga akhirnya aku bisa berjalan, aku lebih suka digendong oleh bik Yani, tidur juga lebih suka bersamanya sebab seingatku ia sangat handal dalam mendongeng. Hingga aku kelas 6 SD ia masih menyuapiku makan, mendengarkan curhatanku apabila aku punya masalah. Di mataku, bik Yani sudah seperti ibuku sendiri. Ketika aku SMA, bik Yani berhenti bekerja di rumahku, ia kembali ke Jawa, dan setelah itu aku tak lagi pernah melihatnya. Tidak tahu alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang bisa dihubungi. Memasuki akhir kuliah, tiba-tiba sebuah surat datang untukku, surat itu dari buk Yani, isinya kebanya…

Lelaki Kehausan & Perempuan Menyusui

Abdulah yang dituduh mencuri sebiji kurma milik Raja, melarikan diri dari kota. Semua orang tahu bahwa Raja sangatlah kejam, kekejamannya itu sangat terkenal di jagat raya. Raja pernah menghukum mati pamannya sendiri hanya karena pamannya mendapatkan sebuah hadiah—berupa buku 1001 malam—dari kerajaan lain, pamannya itu dianggap berhianat. Abdulah lari kepadang gurun gersang, disebuah tempat yang tak pernah dilewati oleh pengembara mana pun. Ia hanya berbekal beberapa potong roti dan dua kantong air. Abdulah bergerak mengikuti arah matahari tenggelam, sebab kota asalnya berada di arah matahari terbit, oleh karena itu ia hanya bisa melanjutkan pelariannya di siang hari yang terik. Lebih seminggu ia berjalan, tapi belum juga menemukan sebuah kota yang katanya berada di arah matahari tenggelam. Bekalnya makin menipis, hingga akhirnya habis. Ia tak pernah tahu seberapa jauh lagi harus berjalan, perutnya yang lapar hanya mampu dibelit dengan kain, kehausan tak bisa ditawari, mungkin tak lama …

Jangan Sembarang Pakai Kata ‘Butuh” Dengan Urang Kutai

Bila ku betemu dengan urang luar kutai lalu sida encarang menyebut kata ‘butuh’ dalam hati aku pasti coba tahan ketawa. Sebab arti kata ‘butuh’ dalam bahasa kutai tu merujuk pada kelamin urang laki. Contoh kalimat yang pasti molah urang kutai ketawa hek karuan: “Aku sangat membutuhkanmu!” Jika dijadikan dialek kutai: “Aku ndak beneh mem—kelamin-urang-laki—kan ka’u!” Contoh lain lagi misalnya: “Apa kamu butuh gunting?” Jika dijadikan dialek kutai: “Apa ka’u kelamin-urang-laki gunting?” Kalimatnya jadi sadis. Mungkin sekian aja bilik meranyau malam ini, hek usah panjang-panjang penting bubuhan ka’u tu ngerti apa arti kata ‘butuh” dan saat apa di pakai bila lagi encarang dengan urang kutai.
Salam membutuhkan!

Kata Orang Samat bin Suaif Ahli Neraka

Semasa hidup Samat bin Suaif terkenal dengan kekikirannya, ia tak pernah menyumbang untuk pakir miskin dan anak yatim padahal ia adalah seorang yang kaya raya. Meski pun demikian ia tak pernah terlewat salat lima waktu di masjid, bahkan sering juga ia melakukan salat sunat dan tak pernah absen puasa senin kamis. Tapi semua ibadahnya itu tak bisa menghindarkannya dari pergunjingan warga kampung, ada yang bilang salat yang dilakukannya hanyalah upaya supaya iya terlihat ahli agama, sedangkan puasa senin kamis yang dilakukannya tidak lebih dari upayanya berhemat sebab ia orang yang kikir.Kekikiran Samat bin Suaif ini tidak hanya berlaku pada orang lain. Pada anak-anaknya pun ia sama pelitnya, sangat jarang ia membelikan anaknya baju baru, terkadang sampai dua kali hari raya barulah anaknnya bisa punya baju baru. Tidak hanya itu, masa sekolah anak-anaknya tak pernah diberi uang jajan, maka anaknya sangat sering menjajakan jualan mbok Mirah di sekolah biar bisa jajan seperti anak lainnya. …

Agus Salim Memintal Mimpi

Tiap petang seusai salat magrib Agus Salim duduk di depan alat memintal. Mimpi yang pernah menghinggapinya sudah dikumpulkan dalam bejana. Biasanya tiap tiga sampai empat jam ia akan mulai memintal mimpi-mimpi tadi menjadi benang, biar kelak suatu saat bisa dijualnya atau dirajutnya untuk dijadikan hiasan dinding. Apabila semua mimpi dalam bejana sudah menjadi benang, akan ia simpan benang-benang tadi di dalam lemari. Apabila lemari-lemarinya sudah penuh dengan benang, maka ia akan mulai merajut benang-benang menjadi hiasan dinding. Apabila beberapa hiasan dinding sudah selesai dan ia merasa lelah merajut, maka sisa benang-benang tadi di jualnya demikian juga dengan hasil rajutannya. Begitulah rutinitas kehidupan Agus Salim, seumur hidupnya ia terus bermimpi, memintal mimpi jadi benang, merajutnya, lalu menjualnya. Tak pernah sekali pun terpikir olehnya untuk menjadikan mimpi-mimpi tadi jadi kenyataan.[]

Kepikiran Awak

Urang Banjar nyebut ini karindangan, amun diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya rasa rindu yang sangat berlebihan. Memang agak sakit menjelaskan kalimat macam ni, sebab ini endik hanya soal kalimat, tapi jua soal perasaan, hati, dan telebeh-lebeh cinta. Intinya ‘kepikiran awak’ ni sama dengan ‘teringat kamu’ walau kata ‘kepikiran awak’ tu artinya lebeh dari sekedar kepikiran. Yah, pokoknya tegak itu lah!
Kuanggap bubuhan kita sudah ngerti dengan kata ‘kepikiran awak’. Okey jadi selanjutnya aku ndak bekesah kenapa aku tetiba membahas tentang ‘kepikiran awak’ ni.
Abangku pernah ditanyai mamak, prihal cewek. Sebab abangku nih dah cukup tuha tapi belum jua beisi cewek, amun disebut gagah, muhanya ni jauh hak dari hek baik, amun disebut mapan sudah lebeh dari mapan inya tu, sudah beisi rumah sorang, oto sorang, honda sorang—amun aku umpat nimpali bila mamak betanya tegak itu, aku langsung nyebut. “Abang kan sudah beisi apa-apa serba sorang, makanya inya tu ndaknya hidup sorang maha”.…

(Ilustrasi) Sunarti Jadi Bisu

Menunggu Tamu Penting

Sekitar 25 menit lagi pukul 10 malam, seperti janji yang sudah dibuat, tamu penting itu akan datang. Aku duduk di sofa menunggu dengan sabar. Tiba-tiba pintu diketuk, aku melirik ke arah jam dinding masih sekitar 20 menit lagi sebelum pukul 10 malam.  Mungkin ia datang lebih awal!. Pikirku yang langsung menuju pintu utama dan membukanya sembari memperlihatkan senyum. Namun ternyata yang berdiri di depan pintu bukan tamu penting yang kutunggu, melainkan tetangga sebelah rumahku. Dia seorang perempuan.

Sejak tinggal di komplek perumahan itu, tetanggaku itu sering kali merepotkan, dia sering meminta tolong berbagai hal, mulai dari membantunya mengganti lampu yang tidak mau menyala, memperbaiki genteng bocor, sampai menyedot toiletnya yang tersumbat. Aku orangnya tidak enakan apabila menolak orang yang meminta tolong, walau kadang dengan berat hati jika masih bisa aku lakukan akan tetap aku lakukan. Mungkin begitulah seharusnya hidup bertetangga.

Tetanggaku datang membawa kucing peliharanny…

Tetaplah Berteman dengan Mantan

Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan upaya balikan sama mantan—kok aku curiga kalian mikir gitu ya!—ini lebih kepada menjalin silaturahmi yang baik antar umat ber-mantan-an.Sering kali kudengar beberapa kerabat berkelakar tentang kebiasaan mereka menghindar apabila bersua dengan mantan kekasih. Kata mereka, mereka jadi sangat canggung, serba salah, dan malu-malu kucing apabila berada di suatu tempat dalam sebuah kesempatan yang tanpa disenghaja. Apalagi jika pada kesempatan itu mereka tanpa senghaja beradu tatap, ini semacam melihat matahari terbit di barat dan tenggelam di timur—pertanda akhir zaman.Hal itu masih kalah parah dengan situasi ketika bersua dengan mantan kekasih dan dia sedang jalan bersama pasangan barunya. Ini petaka besar. Andai saja saat itu bisa pura-pura mati mungkin hal itu akan dilakukan dalam sekejab. Ditambah lagi si mantan kekasih menyapa sambil memperlihatkan senyum termanisnya. Bisa dibayangkan apa yang ada di dalam pikiran mantan kekasihmu itu, kumo…

(Ilustrasi) Do Not go Gentle Into that Good Night

(Ilustrasi) Lautan yang Bersemayam di Perutnya

Kamu Plase

Bersama Gaspar, Sabda Armandio Mencoba Jadi Penjahat

Membicarakan Sabda Armandio hampir sama dengan membicarakan hal aneh yang jarang kalian temui di kehidupan nyata, namun sangat asik untuk dibahas. Pada mulanya aku membaca novel pertama Sabda yang berjudul; Kamu (Cerita yang tidak perlu dipercaya)—novel itu sungguh punya cover yang bagiku sangat tidak menarik dan punya judul yang terkesan tidak penting (ini menurut seleraku lo ya!). Seolah ada kekuatan magis yang  dimiliki novel itu, tiba-tiba saja keinginan untuk membaca novel itu timbul begitu saja. Ya semacam orang yang tercebur ke laut, mencari pegangan agar tidak tenggelam. Dan novel Kamu tadi seolah berbinar bagai penyelamat—hahaha ini terlalu berlebihan.
Berawal dari kesan novel pertamanya itulah aku jadi sangat bersemangat untuk membaca novelnya yang lain. Ketika sedang membaca sebuah tulisan di blognya Bernard Batubara tentang tiga buku yang sangat ditunggu oleh Bara tahun ini, semangat menggebu membakar sukma itu kembali berkobar, sebab salah satu dari tiga novel yang dibicar…