Skip to main content

Kepikiran Awak

Urang Banjar nyebut ini karindangan, amun diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya rasa rindu yang sangat berlebihan. Memang agak sakit menjelaskan kalimat macam ni, sebab ini endik hanya soal kalimat, tapi jua soal perasaan, hati, dan telebeh-lebeh cinta. Intinya ‘kepikiran awak’ ni sama dengan ‘teringat kamu’ walau kata ‘kepikiran awak’ tu artinya lebeh dari sekedar kepikiran. Yah, pokoknya tegak itu lah!

Kuanggap bubuhan kita sudah ngerti dengan kata ‘kepikiran awak’. Okey jadi selanjutnya aku ndak bekesah kenapa aku tetiba membahas tentang ‘kepikiran awak’ ni.

Abangku pernah ditanyai mamak, prihal cewek. Sebab abangku nih dah cukup tuha tapi belum jua beisi cewek, amun disebut gagah, muhanya ni jauh hak dari hek baik, amun disebut mapan sudah lebeh dari mapan inya tu, sudah beisi rumah sorang, oto sorang, honda sorang—amun aku umpat nimpali bila mamak betanya tegak itu, aku langsung nyebut. “Abang kan sudah beisi apa-apa serba sorang, makanya inya tu ndaknya hidup sorang maha”. Lihat masam muha abangku bila aku umpat-umpatan nge-bully inya. Padahal dalam hati aku jua takut sebab kendia aku jua pasti bakal ditanya tegak tu jua—selagi abang belum beisi cewek, untuk sementara aku maseh aman.

Amun sudah urusan cewek ni, abangku tu banyak beneh alasannya. Sibuk lah, belum ada cewek yang cocok lah, dan yang paling rancak di ungkitnya takut hek cocok dengan mamak, sebab dulu abangku tu pernah beisi pacar, pas dibawaknya ke rumah, sekalinya hek cocok dengan mamak, sebut mamak ceweknya tu hek tahu pa-pa. Mamak tu takut mun abangku tu nikah dengan cewek tu mengah maha kendia malah abangku yang betepasan, nyapu rumah, sampai bemasak. Hek bisa tebayangkan memang, urang abangku ni makan aja maseh rancak disuapi mamak.

Terus apa hubungannya kesah abangku tu dengan ‘keingatan awak’?

Abangku tu rancak benah bejalanan kemana-mana, sampai keluar negri jua rancak. Dengan aku inya rancak bekesah tentang wadah-wadah yang pernah didatanginya, sebutnya pakai catatanku siapa tahu kendia aku tegak inya, bejalanan ndak keliling dunia. Setiap wadah yang didatanginya pasti ada kesahnya, pasti jua ada kesan-kesan yang hek dapat dilupakannya, kadang tu rancak jua inya nyebut amun kawa kendia inya ndak balik lagi ke situ. Ya abang ku ni semacam keingatan wadah tu terus, sejenis hak dengan sindrom ‘keingatan awak’ tu.

Abangku tu urangnya memang jahel, tapi biar tegak tu kami rancak becurhatan masalah pribadi. Pernah aku betanya dengannya;

“Belum pernah kah abang ni betemu dengan cewek yang bisa molah abang tu kepikiran inya terus tegak abang kepikiran wadah-wadah yang ndak abang pegi’i?”

“Wadah-wadah tu beda dengan cewek,” muhanya sok serius.

“Beda tegak apa?”

“Beda hak inya. Amun cewek tu ndik hanya jadi tempat etam singgah terus rekreasi pakai dipandangi. Cewek tu tegak rumah yang nyaman. Kemana pun pegi, pasti ujung-ujungnya balik lagi ke rumah. Cewek tu kawan hidup sampai mati, nya mau nerima etam apa adanya, tegak tu jua etam sebaliknya....”

Habis tu aku hek tahu lagi apa kesah abangku tu, aku sudah keburu tidur duluan sebab kesahnya tu kepanjangan, bebelit-belit hek beujung.

Kesimpulanku :

1.      Abangku tu belum betemu dengan cewek yang cocok dengannya,
2.      Biar ada cewek yang cocok dengannya, inya pasti betanya dengan mamak dan minta pendapat mamak. Itu tandanya abangku tu sayang dengan mamak,
3.      Mungkin abangku tu sudah kenyamanan hidup sorangan, dan umurnya sudah lewat untuk mikiri masalah nikah—aku pernah nengar mamak nyebut tegak tu,
4.      Ambisi abangku keliling dunia lebih pore daripada becari cewek pakai bini,
5.      Mungkin takdir—habis perkara.

Terus apa hubungannya kesah abangku tu dengan ‘keingatan awak’?

Aku jua hek tahu hahaha, saat nulis ini kalimat yang melintas di kepalaku ni ya hak ‘keingatan awak’ dan kesah yang tegaknya rame di kesah ya kesah abangku. Atau mungkin aku ni lagi keingatan seorang cewek kah yo hahaha no coment leh mun soal itu. Dah dulu yoh meranyaunya hari ini, mudahan yang baca tulisan ini cepat dapat jodoh, bagi yang sudah bepacaran mudahan cepat kawin, yang sudah kawin cepat beisi anak, yang beisi anak mudahan cepat beisi cucu. Amin!


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya

Siapa itu Anton Chekhov?  Mungkin itu pertanyaan awal yang terlintas di benak kalian semua. Sebagai sebuah pembuka tulisan ini, aku akan menjelaskan sedikit tentang lelaki yang ternyata menutup usianya  di usia 44 tahun.Anton Chekhov adalah seorang sastrawan asal Rusia yang sangat banyak menulis cerpen. Di dalam buknya ini dia sampai disebut sebagai Raja Cerita Pendek. Kebanyakan cerpen yang ditulisnya memang sangat pendek, bahkan ada yang hanya terdiri dari 6 paragraf saja seperti cerpen yang berjudul Lobak. Namun ada juga yang terlampau panjang seperti Wanita Dengan Anjing.Dia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke majalah humor pada saat dia tinggal di Moskow untuk meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Moskow.  Tujuan awalnya untuk membantu keuangan keluarganya. Namun setelah lulus dan mulai menekuni karir sebagai dokter, dia malah semakin tertarik pada dunia sastra.Dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Pengakuan ini, Anton Chekhov banyak membahas tentang kehidupan so…

The Seven Good Years : Cara Edgar Keret Menertawakan Hidup

Sebelum membaca buku ini, aku sudah cukup sering membaca cerpen-cerpen Edgar Keret di blog-blog yang dengan baik hati sudah menterjemahkan cerpen-cerpen tadi ke dalam bahasa Indonesia. Cerpen Keret terkenal sangat pendek, lucu, dan tentunya mempunyai olok-olok jenaka tentang hal-hal yang berbau politik serta hal-hal lainnya mengenai perang. Walau banyak juga ia menulis tentang hal lainnya. Keret adalah seorang Yahudi yang  tak mau pindah dari asalnya, Israel. Ia hidup di daerah konflik, namun pandangannya tentang itu tergolong unik, ia sangat kritis terhadap pemerintah, terhadap perang. Karena baginya perdamaian melampaui batas agama, bangsa, dan negara.Di dalam buku ini Keret bercerita tentang pegalaman hidupnya selama 7 tahun, hal ini dimulai ketika anaknya Lev lahir. Ia membuka cerita-cerita dengan sangat lucu, seperti memperolok dirinya sendiri, bahkan ia bisa membuat hal-hal yang menyedihkan atau semacam bencana mengerikan menjadi sesuatu yang santai serta lucu. Seperti saat istr…

Bersama Gaspar, Sabda Armandio Mencoba Jadi Penjahat

Membicarakan Sabda Armandio hampir sama dengan membicarakan hal aneh yang jarang kalian temui di kehidupan nyata, namun sangat asik untuk dibahas. Pada mulanya aku membaca novel pertama Sabda yang berjudul; Kamu (Cerita yang tidak perlu dipercaya)—novel itu sungguh punya cover yang bagiku sangat tidak menarik dan punya judul yang terkesan tidak penting (ini menurut seleraku lo ya!). Seolah ada kekuatan magis yang  dimiliki novel itu, tiba-tiba saja keinginan untuk membaca novel itu timbul begitu saja. Ya semacam orang yang tercebur ke laut, mencari pegangan agar tidak tenggelam. Dan novel Kamu tadi seolah berbinar bagai penyelamat—hahaha ini terlalu berlebihan.
Berawal dari kesan novel pertamanya itulah aku jadi sangat bersemangat untuk membaca novelnya yang lain. Ketika sedang membaca sebuah tulisan di blognya Bernard Batubara tentang tiga buku yang sangat ditunggu oleh Bara tahun ini, semangat menggebu membakar sukma itu kembali berkobar, sebab salah satu dari tiga novel yang dibicar…